BeritaDaerahKamparPemerintahan

Program 1 RT 1 Pelaku Usaha Jalan Perubahan Menuju Kemandirian Desa

223
×

Program 1 RT 1 Pelaku Usaha Jalan Perubahan Menuju Kemandirian Desa

Sebarkan artikel ini

Labalabanews.com

 

Kampar _____Program 1 RT 1 Pelaku Usaha yang digagas Rian Adli, Kepala Desa Sungai Petai, bukanlah sekadar program ekonomi biasa. Ia adalah upaya sistematis untuk membalik paradigma pembangunan desa dari sekadar penerima bantuan menjadi pencipta kemandirian. Di balik gagasan ini, terdapat kesadaran mendalam bahwa masalah terbesar masyarakat bukan hanya pada kurangnya modal atau fasilitas, tetapi pada pola pikir yang selama ini terlanjur terbentuk: lebih nyaman menunggu bantuan ketimbang berani mengambil risiko untuk berusaha.

Rian melihat akar masalah ini sebagai persoalan mindset. Ia memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi hanya dengan menyalurkan modal atau membuka akses pasar. Selama masyarakat masih terjebak pada logika ketergantungan, pembangunan ekonomi akan berjalan di tempat. Karena itulah, strategi pertamanya adalah melakukan revolusi kesadaran. Ia berulang kali mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan bukanlah bertambahnya penerima bantuan sosial, melainkan berkurangnya jumlah warga yang bergantung pada bantuan itu. Di berbagai kesempatan, baik dalam forum resmi maupun dalam percakapan sederhana di warung kopi, ia menyampaikan bahwa desa akan gagal jika masyarakat tidak bangkit bersama. Ketegasan ini bahkan ia pertaruhkan dengan pernyataan bahwa dirinya siap mundur jika masyarakat tetap pasif. Justru dari ketegasan itulah muncul gelombang kesadaran warga: mereka menolak pemimpin mereka mundur, dan akhirnya memilih ikut berbenah.

Namun, mengubah kesadaran saja tidak cukup. Rian tahu betul bahwa masyarakat yang sudah lama terbiasa dengan ketergantungan memerlukan jembatan untuk bertransformasi. Ia kemudian merancang pola pendampingan yang bersifat inkubasi. Bagi Rian, pelatihan singkat bukanlah solusi. Ia mendorong adanya proses jangka panjang berupa pendampingan usaha, di mana masyarakat tidak hanya diajarkan teori kewirausahaan, tetapi juga ditemani dalam praktik nyata mengelola usaha. Dalam pikirannya, membangun usaha di desa ibarat menyalakan api kecil di tungku; ia harus dijaga, disuapi kayu sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menyala sendiri tanpa bantuan orang lain.

Kunci keberhasilan program ini, menurut Rian, ada pada ekosistem yang menopang pelaku usaha. Karena itu, ia tidak pernah melihat pelaku usaha sebagai individu yang berjalan sendiri, melainkan bagian dari jaringan ekonomi desa. BUMDes dan koperasi ia posisikan sebagai tulang punggung yang menghubungkan usaha kecil warga dengan pasar yang lebih besar. Ia ingin agar setiap produk lokal, dari hasil kebun hingga kerajinan rumah tangga, tidak berhenti di pasar desa, melainkan bisa dipasarkan keluar. Dengan dukungan kelembagaan desa, usaha-usaha kecil itu tidak lagi berdiri sendiri, tetapi masuk ke dalam sebuah rantai ekonomi kolektif yang lebih kokoh.

Rian juga memahami bahwa salah satu hambatan klasik usaha kecil di desa adalah keterbatasan pasar. Ia menyadari bahwa produk warga seringkali hanya berputar di lingkaran konsumen lokal. Karena itu, ia mendorong digitalisasi sebagai jembatan yang membuka pasar lebih luas. Melalui aplikasi desa digital yang sebelumnya ia inisiasi, ia menambahkan fitur pemasaran online yang terhubung langsung dengan konsumen di luar desa. Ia percaya bahwa anak-anak muda desa yang terbiasa dengan teknologi bisa menjadi motor penggerak digitalisasi pemasaran, sementara orang tua mereka tetap fokus pada produksi. Sinergi antar-generasi ini menjadi kunci agar program tidak berhenti hanya sebagai slogan, melainkan berkembang menjadi gerakan ekonomi nyata.

Tantangan lain yang tak kalah besar adalah keterbatasan modal dan risiko konflik sosial. Dalam masyarakat desa, siapa yang mendapatkan akses lebih dulu sering kali menimbulkan kecemburuan. Rian menyadari hal ini, dan karena itu ia mendorong mekanisme partisipatif dan transparan. Ia mengajak warga RT sendiri yang menentukan siapa pelaku usaha yang akan dibina terlebih dahulu. Skema bergulir ia terapkan: setelah satu usaha berhasil berjalan stabil, giliran warga lain mendapatkan kesempatan yang sama. Dengan cara ini, rasa keadilan tetap terjaga, dan program dipandang sebagai milik bersama, bukan milik segelintir orang.

Modal usaha pun ia arahkan untuk dikelola dengan bijak. Rian paham bahwa bantuan modal seringkali berakhir sebagai konsumsi jangka pendek, bukan investasi produktif. Karena itu, ia menggandeng koperasi desa untuk mengelola dana secara kolektif, memastikan bahwa modal benar-benar digunakan untuk pengembangan usaha. Sistem simpan pinjam berbasis komunitas ia dorong agar warga merasa memiliki tanggung jawab bersama, bukan hanya menerima tanpa kewajiban.

Kesadaran kolektif inilah yang kemudian ia kaitkan dengan nilai kemerdekaan. Meluncurkan program 1 RT 1 Pelaku Usaha bertepatan dengan Pesta Rakyat Merdeka bukanlah kebetulan. Rian ingin menegaskan bahwa kemerdekaan hari ini bukan lagi soal melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan ketidakberdayaan ekonomi. Ia ingin agar setiap warga merasakan bahwa ketika mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, itulah bentuk nyata dari kemerdekaan. Dengan memilih momentum peringatan kemerdekaan, ia menjadikan program ini bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga simbol perjuangan generasi baru.

Dalam visi Rian, program ini tidak berhenti di Sungai Petai. Jika berhasil, ia yakin desa-desa lain dapat mereplikasi model yang sama. Sederhana, berbasis RT, dan mengakar pada potensi lokal. Dengan 74 ribu desa di Indonesia, jika setiap desa melahirkan ratusan pelaku usaha baru, maka akan tercipta gelombang besar UMKM nasional yang tumbuh dari desa, bukan dari kota. Inilah yang ia sebut sebagai demokratisasi ekonomi: setiap warga, sekecil apa pun, memiliki peran dalam menggerakkan bangsa.

Dengan segala keterbatasannya, Rian Adli membuktikan bahwa kepemimpinan transformatif bisa lahir dari desa. Program 1 RT 1 Pelaku Usaha bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan upaya menyatukan kesadaran, solidaritas, dan keberanian masyarakat untuk berubah. Tantangannya memang berat, terutama dalam mengubah mindset masyarakat yang telah lama pasif. Tetapi dengan integritas, visi jangka panjang, dan kesediaan untuk menuntun masyarakat selangkah demi selangkah, program ini memiliki peluang besar untuk menjadi pilot project nasional.

Jika program ini berhasil, maka Sungai Petai tidak hanya akan dikenang sebagai desa kecil di tepian Kampar, melainkan sebagai titik awal perubahan paradigma pembangunan Indonesia. Dari satu RT, lahirlah harapan bahwa bangsa ini bisa benar-benar merdeka, bukan hanya secara politik, tetapi juga secara ekonomi.