Laba-labanews.com
Pulau Gadang___Polemik terkait pengelolaan aset sekolah kembali mencuat. Ridwan, Kepala Sekolah SMP di Pulau Gadang, menjadi sorotan warga setelah diduga mengelola lahan sekolah untuk kepentingan pribadi selama bertahun-tahun.
Lahan yang dulunya berupa rawa, diubah menjadi berbagai fasilitas seperti kolam ikan, kolam renang, dan kolam taman yang disebut-sebut digunakan untuk sarana edukatif siswa. Namun, masyarakat mempertanyakan kejelasan pemanfaatan dan transparansi hasil pengelolaan lahan tersebut, terutama keuntungan dari usaha kolam ikan yang disebut-sebut sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
Menurut keterangan warga, usaha kolam ikan pernah menghasilkan keuntungan sebesar Rp5 juta dalam enam bulan, dan hasil tersebut kemudian digunakan untuk membangun dua kolam baru. Namun, hingga kini, tidak ada laporan resmi terkait berapa banyak keuntungan yang diperoleh selama bertahun-tahun dan bagaimana dana tersebut digunakan untuk kepentingan sekolah.
Ridwan sendiri tidak memberikan jawaban tegas saat diminta konfirmasi oleh awak media. Ia hanya menyampaikan bahwa dirinya telah lama berkontribusi untuk kemajuan kampung halamannya.
“Saya pulang kampung tahun 1996 untuk membangun Pulau Gadang, pernah dirikan SMA dan jadi kepseknya sejak 1999 hingga 2005, lalu saya negerikan sekolah itu,” ujar Ridwan. Ia juga menyebut pernah menjabat sebagai Ketua LKMD dan memprakarsai pembangunan pasar serta lapangan bola kaki. Bahkan di Rokan Hulu, ia mengklaim sebagai penggagas berdirinya SMP di Kecamatan Kabun.
Meski demikian, warga tetap menuntut adanya transparansi atas pemanfaatan aset negara berupa lahan sekolah. Mereka khawatir pengelolaan pribadi tanpa akuntabilitas dapat merugikan institusi pendidikan dan menciderai semangat gotong royong masyarakat.
“Kalau benar untuk sekolah, tunjukkan laporan dan hasilnya. Jangan sampai sekolah malah jadi lahan pribadi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Kasus ini menjadi perhatian serius masyarakat, terutama para alumni yang merasa kecewa jika kabar tersebut benar adanya. Mereka berharap pihak berwenang turun tangan untuk menelusuri dugaan penyalahgunaan aset sekolah tersebut demi menjaga integritas dunia pendidikan di daerah.







