Labalabanews.com
Bangkinang ____ 4 September 2025 Beredarnya kabar mengenai dugaan keracunan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kampar telah memicu perhatian publik dan berbagai pihak terkait. Menanggapi isu yang viral di media sosial ini, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Kampar, Bekti Indrawan, memberikan klarifikasi melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 4 September 2025.
Bekti Indrawan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti konkret yang dapat memastikan bahwa kasus dugaan keracunan tersebut disebabkan oleh makanan yang disediakan melalui program MBG. “Untuk sekarang, belum ada bukti kongkrit masalah itu disebabkan akibat keracunan oleh makanan MBG,” ujarnya. Pihaknya menjelaskan hasil laboratorium dan diagnosa medis dari pasien yang diduga menjadi korban untuk memastikan penyebab pasti dari keluhan kesehatan yang dialami.
Dalam penjelasannya, Bekti Indrawan juga memaparkan secara rinci mengenai proses pendistribusian makanan dalam program MBG. “Secara tekhnik, untuk proses pendistribusian seharusnya kita mulai pengolahan jam 00.00 sampai jam 4.00 dini hari, dan di packing jam 5.00, dan pengantaran dari jam 8.00 sampai 13.00,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sistem pengawasan juga menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program ini. “Terkait sistem pengawasan, ahli gizi memang selalu mengawasi dari proses persiapan sampai dengan packing,” tegasnya.
Menanggapi kejadian viral terkait dugaan adanya korban keracunan, Bekti Indrawan menjelaskan bahwa pada hari Kamis, 28 Agustus 2025, menu yang disajikan adalah nasi goreng. Ia mengakui bahwa pada hari tersebut, proses pengolahan nasi goreng dilakukan terlalu cepat dari seharusnya. “Kejadian yang dimaksud, hari itu menu nasi goreng dan di olah terlalu cepat, harusnya di olah mulai dari jam 2.00 dini hari,” ungkapnya.
Bekti Indrawan juga menekankan pentingnya peran serta pihak sekolah dalam menjaga kualitas makanan yang diterima. Ia menghimbau agar pihak sekolah melakukan pengecekan terhadap kondisi makanan sebelum diberikan kepada siswa. “Harusnya pihak sekolah juga harus ngecek jika ada kendala makanan basi/berlendir, seharusnya di konfirmasi ke SPPG,” tegasnya.
Di tempat terpisah, Yayasan Srikandi Barokah Utama melalui perwakilannya yang enggan disebutkan namanya (inisial IN), turut memberikan tanggapan terkait isu ini. Dalam pernyataannya, Yayasan Srikandi Barokah Utama berharap agar semua pihak terkait dapat bekerja sama untuk menjaga mutu dan higienitas menu MBG demi menyukseskan program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk menjaga higienis dari menu MBG ini, mesti ada kolaborasi dari semua pihak, pengawasan, dan barangkali pelatihan juga untuk tenaga ahli gizi dan tukang masak,” pintanya. Yayasan Srikandi Barokah Utama menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyedia makanan, pihak sekolah, dan masyarakat dalam memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG.
Dengan adanya klarifikasi dari SPPG Kabupaten Kampar dan harapan dari Yayasan Srikandi Barokah Utama, diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat dan komprehensif terkait isu dugaan keracunan makanan dalam program MBG. Pemerintah Kabupaten Kampar diharapkan dapat segera melakukan investigasi mendalam terkait kasus ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, serta memastikan program MBG tetap berjalan dengan aman dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.***







