Laba-labanews.com
Bangkinang___Ketegangan atas kepemilikan lahan Restan seluas 60 hektare di kawasan UUO Suka Mulya, Desa Suka Mulya, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, kembali pecah. Sabtu siang (12/4), aksi massa dari kelompok Al Fadil yang berjumlah sekitar 40 orang berujung ricuh saat berupaya menghentikan aktivitas pemanenan sawit yang dilakukan oleh kelompok Rusdi Rahman Datuk Raja Deko.
Insiden ini bermula pukul 11.30 WIB ketika kelompok Al Fadil—anak dari Ali Arsyam—mendatangi lokasi untuk menuntut penghentian aktivitas panen di atas lahan yang mereka klaim milik anak kemenakan Datuk Raja Deko. Bentrokan tak terhindarkan setelah terjadi adu mulut antara massa Al Fadil dan tim pengamanan swakarsa (PAM) dari kelompok Rusdi Rahman yang disebut berasal dari etnis Flores, NTT.
Keributan meningkat menjadi aksi kekerasan. Sekitar pukul 12.30 WIB, salah satu anggota massa Al Fadil, Nusarman, menjadi korban pengeroyokan brutal oleh empat orang dari pihak PAM swakarsa. Mereka dilaporkan mengejar massa dengan senjata tajam berupa parang dan panah, kemudian memukul, menginjak, serta mengancam korban. Nusarman mengalami luka lebam di wajah, rahang, dan dada akibat tindak kekerasan tersebut.
Korban telah melaporkan kejadian ini ke Polres Kampar dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/105/IV/2025. Peristiwa ini dilaporkan pada pukul 15.14 WIB, dan hingga saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan oleh pihak Satreskrim Polres Kampar.
Menurut laporan intelijen Polres Kampar, konflik ini berakar dari pembatalan sepihak penyerahan lahan 60 hektare oleh Ali Arsyam kepada Rusdi Rahman pada Februari 2025. Pembatalan ini dilakukan karena hasil lahan dinilai tidak dinikmati oleh anak kemenakan, melainkan dikuasai pribadi oleh Rusdi Rahman. Hal inilah yang memicu upaya pengambilalihan kembali oleh pihak Al Fadil.
Polisi mencatat bahwa hingga sore hari, massa dari kelompok Al Fadil telah membubarkan diri, sementara barak milik kelompok Rusdi Rahman masih dijaga ketat oleh sekitar 10 orang PAM swakarsa dari Flores.
kemungkinan bentrokan susulan jika tidak segera dilakukan mediasi, serta meningkatnya sentimen etnis antara masyarakat lokal Melayu dengan kelompok pengaman dari Flores.






