Laba-labanews.com
Jakarta___Pertamina kembali jadi sarang korupsi! Dugaan kebocoran uang negara mencapai 193,7 triliun rupiah, mengalir lewat impor minyak, mark-up pengadaan, hingga permainan broker. Kejaksaan kini memburu siapa dalang di balik megaskandal ini.
Tak hanya soal korupsi, Indonesia juga dihadapkan pada ancaman serius: Cadangan minyak nasional diprediksi habis dalam 18 tahun! Saat ini, kebutuhan minyak mencapai 1,6 juta barrel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya 600 ribu barrel per hari. Defisit sejuta barrel per hari ini memaksa Indonesia mengimpor minyak dalam jumlah besar—ladang basah bagi para mafia migas!
Mafia minyak di Pertamina semakin beringas. Sistem pengadaan masih gelap, e-katalog diabaikan, dan praktek suap menjadi rahasia umum. Dari pejabat hingga pengusaha besar diduga ikut bermain. Sementara 9 eksekutif sudah memakai rompi tahanan, publik bertanya: Di mana para “bangsawan tikus” sebenarnya?
Di tengah kekacauan ini, satu hal semakin jelas: Indonesia harus segera beralih ke kendaraan listrik! Dengan minyak yang terus menipis, skandal yang terus berulang, dan ketergantungan impor yang berbahaya, masa depan energi hijau bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Akankah ini menjadi titik balik bagi Indonesia? Atau mafia migas tetap bercokol, merampok kekayaan negara tanpa henti? Semua mata kini tertuju pada langkah pemerintah dan keberanian aparat hukum.






