Laba-labanews.com
Pulau Rupat___ Dikutip dari nuansa dari nuansa post derita buruh di Pulau Rupat kembali menguak luka lama. Di wilayah perkebunan kelapa sawit milik PT. Marita Makmur Jaya (MMJ), jenazah para pekerja yang meninggal dunia diperlakukan secara tidak manusiawi. Fakta memilukan itu diungkap langsung oleh Dewan Pimpinan Pusat LSM LPK-RI-BA.I Provinsi Riau, yang dipimpin oleh Tehe Z Laia.
Dalam investigasi selama tiga hari berturut-turut, dari Senin hingga Rabu (21–23 April 2025), tim LPK-RI-BA.I bersama sejumlah wartawan menyaksikan sendiri dua peti jenazah dewasa diangkut menggunakan jonder—alat berat yang biasanya dipakai mengangkut buah sawit. Sementara satu jenazah bayi bahkan dibawa menggunakan sepeda motor oleh pihak keluarga karena tidak adanya bantuan transportasi dari perusahaan.
“Ini bukan hanya bentuk kelalaian, ini penghinaan terhadap martabat manusia! Mereka mengeruk keringat buruh untuk kekayaan, tapi saat wafat, jenazahnya diperlakukan seperti bangkai,” tegas Tehe Z Laia dengan suara bergetar penuh kemarahan.
Menurut laporan Ketua RT 12 Desa Darul Aman, lokasi pemakaman pekerja sangat tidak layak—hanya sebidang tanah 40×40 meter yang dipenuhi semak dan tulang-belulang pekerja sebelumnya. Bahkan, jenazah harus dipikul sejauh tiga kilometer karena akses jalan tidak tersedia. Hal ini sudah dilaporkan ke Polsek dan Babinkamtibmas, namun belum ada perubahan berarti.
Yang lebih memilukan, jenazah alm. Arisman Zai, salah satu pekerja, sempat terjun ke parit karena jonder tidak bisa melewati bendungan. Sejumlah rekan kerja terpaksa masuk ke air dan memikul jenazah melewati hutan menuju kuburan. Proses pemakaman pun dilakukan malam hari karena alat berat diprioritaskan untuk produksi sawit.
Tak hanya masalah jenazah, laporan para pekerja juga menyebutkan pemotongan upah secara sepihak oleh pihak perusahaan dengan dalih denda, buah mentah, hingga banyaknya sampah. Bahkan, angkutan anak sekolah pun menggunakan mobil pengangkut sawit yang kotor dan tidak layak.
“Perusahaan ini tidak punya hati nurani! Hak-hak buruh dirampas, bahkan saat meninggal pun tidak dimuliakan. Kami akan kirim laporan resmi ke Komnas HAM, Presiden Prabowo, dan Kapolri agar PT.MMJ diusut tuntas!” tegas Tehe.
Sementara itu, Ketua RW 06 Desa Darul Aman, Hernawati, juga angkat suara. Ia menilai kondisi pemakaman dan perlakuan terhadap buruh sudah melanggar HAM dan meminta agar PT.MMJ bertanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, konfirmasi melalui WhatsApp oleh wartawan nuansa post kepada manajemen PT.MMJ alias Simare Mare belum mendapatkan tanggapan.
Sumber : Nuansapost






