Labalabanews.com
Kampar___Kepala Resort Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau wilayah Kampar, Hendri, menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut andil dalam menjaga dan melindungi hutan Cagar Alam (CA) yang kian terancam oleh aktivitas perambahan liar.
“Kami sangat terbatas secara personel. Dengan hanya lima orang petugas, kami harus mengawasi 14.000 hektare kawasan yang tersebar di tiga kecamatan,” ungkap Hendri saat diwawancarai, Senin (14/7/2025).
Wilayah yang masuk dalam kawasan pengawasan BBKSDA Kampar meliputi Desa Siabu di Kecamatan Salo, Desa Bukit Melintang, Pulau Tetap, dan Merangin di Kecamatan Kuok, serta Desa Koto Masjid, Pulau Gadang, Tanjung Alai, dan Balung di Kecamatan XIII Koto Kampar.
Dari hasil pendataan tim di lapangan, sekitar 300 hektare lahan Cagar Alam telah beralih fungsi menjadi kebun oleh oknum masyarakat. Menurut Hendri, hal ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem hutan lindung dan keberlangsungan keanekaragaman hayati.
“Kami terus melakukan pendataan dan koordinasi dengan tim Satgas serta pimpinan untuk menindaklanjuti. Tapi kami tak bisa berjalan sendiri. Kami butuh kolaborasi dengan masyarakat,” jelasnya.
Terkait aktivitas ilegal logging, Hendri menegaskan bahwa sebagian besar terjadi di luar wilayah Cagar Alam yang bukan merupakan domain langsung BBKSDA. “Fokus kami tetap menjaga kawasan inti Cagar Alam, di luar itu wewenangnya berbeda,” imbuhnya.
Hendri mengajak masyarakat agar tidak menjadi pelaku perusakan, melainkan menjadi pelindung hutan. “Hutan ini warisan untuk anak cucu kita. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?” pungkasnya dengan nada tegas.
Ajakan Kepala Resort BBKSDA Kampar ini menjadi seruan moral agar semua pihak, terutama masyarakat lokal, ikut menjaga kelestarian hutan sebelum semuanya terlambat.






