Labalabanews.com Jakarta
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina melalui Paramadina Communication Institute (PCI) membuat forum seminar dan peluncuran buku dengan tema “Strategi Komunikasi Politik Jelang Pemilu 2024”. Forum tersebut diadakan di Aula Nurcholish Madjid Universitas Paramadina. Kegiatan tersebut dihadiri oleh mahasiswa, praktisi, dan akademisi ilmu komunikasi. Forum itu sekaligus membahas isi buku “Komunikasi Politik, Aktivisme, dan Sosialisme” yang ditulis oleh Erik Ardiyanto selaku Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.
Dalam sambutnya, Rektor Prof. Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini mengatakan bahwa partai politik era sekarang harus berkolaborasi untuk menciptakan suatu titik temu yang bermanfaat. Menurut Didik, saat ini ideologi dalam partai politik itu sifatnya adalah transaksional, jadi ideologi yang ada di partai politik itu seperti pita. Kedua jung pita tersebut bisa bertemu untuk menghasilkan sesuatu dalam lingkungan masyarakat.
“Masyarakat selalu berinteraksi dan bertukar pikiran satu sama lain. Maka dari itu, manusia dianggap institusi pertukaran (exchange). Kita belajar komunikasi itu sebagai institusi pertukaran. Komunikasi politik adalah pertukaran antara law maker dengan masyarakatnya. Dalam perdagangan internasional pertukaran antara importir dengan eksportirnya. Dan pemilu adalah para calon dengan masyarakatnya. Oleh karena itu, ilmu sosial dianggap exchange,” kata Didik, Rabu (21/6/2023)
Sementara itu, Dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Erik Ardiyanto menjelaskan tentang isi buku yang ditulisnya. Ia menyebutkan melalui buku ini kita bisa belajar dari tokoh-tokoh politik seperti Bernie Sanders, Alexandria Ocasio-Cortez, dan Jeremy Corbyn. Menurut Erik, mereka bertiga adalah politisi sukses yang menarasikan kembali ide-ide sosialisme modern dalam bentuk program ke publik; seperti pendidikan gratis, jaminan kesehatan, upah minimum, energi terbarukan, kesetaraan dan emansipasi.
Walaupun hingga kini proses negasi politik sosialisme sebagai jalan alternatif atas politik kapitalisme terus hilang di benak publik karena distorsi media-media dan aktor-aktor politik yang tidak menginginkan ide itu terwujud, tetapi tidak dengan 3 tokoh tersebut, mereka berhasil menerjemahkan kembali ide – ide politik progresif dengan konteks zaman dan negaranya. Sementara kalau kita bandingkan dengan Indonesia, menjadi politisi moderat adalah pilihan semua orang agar di terima semua kalangan, tetapi dalam kadar tertentu politik moderat hanya bisa merangkul, tetapi tidak ada perubahan politik yang mendasar di masyarakat.
Mereka juga berhasil membikin ekosistem platfom “crowdfunding” yang memungkinan masyarakat berpartisipasi lewat politik dengan menyumbang orang per orang.
Seperti kita tahu pendonor atau oligarki sering mendanai kampanye calon, akibatnya dia bisa mengintervensi kebijakan calon terkait. Selain itu, platform gerakan crowdfunding politik juga sebagai saran pendidikan politik dan membangun pratisipasi masyarakat dalam politik, ini sukses dilakukan ketiganya.
Kemudian melalui buku yang ditulisnya ia berharap menjadi semacam pembelajaran untuk membangun keyakinan kepada para aktivis mahasiswa bahwa dengan bermodal ide dan gagasan, seorang aktivis bisa sukses dalam kontestasi politik seperti ketiga tokoh tersebut. Ujar Erik
Menurut Andul Malik Gimsar Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina pandangan tentang cara kita membaca media menuju pemilu di tahun 2024. Ia berpendapat bahwa para pengguna media sosial jangan terjebak ke dalam Echo Chamber yang hanya berisikan potongan-potongan dari sebuah narasi yang digunakan untuk mempolitisir agenda-agenda di publik.
“Kita jangan terjebak oleh informasi di media sosial yang terus memberikan informasi berdasarkan algoritma. Hal itu berpotensi berada dalam lingkup Echo Chamber dimana kita enggan melihat suatu informasi yang nyata dan tertutup oleh keyakinan kita saja.” ujar Abdul Malik.
Berbeda dari kedua narasumber tersebut, dari Tia Rahmania Dosen Psikologi Universitas Paramadina memberikan pandangannya tentang keterlibatan perempuan di dunia politik. Kita sebagai perempuan harus berani terjun langsung ke dunia politik. Perempuan diberkahi empati yang tinggi dalam lingkungan masyarakat, sehingga kepekaan yang ada pada perempuan bisa membuat perubahan dan memperbaiki lingkungan uja Tia
“Di akhir acara para narasumber berharap acara dengan bentuk forum seperti ini dapat diperbanyak lagi, sehingga menjadi wadah untuk memperkaya ilmu pengetahuan di bidang komunikasi politik,”
Penulis : DY
Sumber : ***








