Labalabanews.com
BANGKINANG ____ Ketegangan politik mewarnai jalannya Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Kampar. Fraksi Demokrat secara terbuka melayangkan kritik tajam dan menyampaikan rasa kesal mendalam langsung di hadapan Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, dan Wakil Bupati, Misharti.
Fokus kecaman tertuju pada buruknya komunikasi birokrasi yang ditunjukkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kampar, Ardi, serta Sekretaris DPRD (Sekwan) Kampar, Yogi,
Anggota DPRD Kampar dari Fraksi Demokrat, Joni Piter (Jhon Piter), dengan nada tegas menyayangkan sikap kedua pejabat tinggi pratama tersebut yang dinilai “membentengi diri” dan sangat sulit untuk dihubungi maupun diajak berkomunikasi.
“Kami berkoordinasi dengan Sekda itu demi membangun komunikasi antarlembaga dan memperjuangkan pesan serta aspirasi masyarakat. Namun, setiap kali dihubungi, telepon tidak pernah diangkat.
Saya tegaskan, saya menghubungi beliau bukan untuk meminta uang atau meminta Pokir (Pokok-Pokok Pikiran)! Tapi herannya, Sekda tidak pernah mau merespons,” ujar Jhon Piter dengan nada kesal saat diwawancarai di sela-sela sidang paripurna.
Sikap tertutup Sekda Ardi dan Sekwan ini ternyata bukan rahasia lagi di kalangan legislatif. Seorang anggota DPRD Kampar lainnya yang enggan disebutkan namanya turut membenarkan hal tersebut. Ia mengamini bahwa kedua pejabat administrasi tertinggi di lingkungan Pemkab dan DPRD Kampar itu memang sangat eksklusif dan sulit dijangkau oleh para wakil rakyat.
Kondisi ini memicu sentimen negatif di parlemen. Fraksi Demokrat menilai macetnya saluran komunikasi ini menghambat fungsi pengawasan DPRD dan mencederai sinergisitas checks and balances antara eksekutif dan legislatif.
Menanggapi “rapot merah” komunikasi bawahannya yang langsung ditembakkan di forum resmi tersebut, Bupati Kampar Ahmad Yuzar mencoba meredam situasi dengan memberikan pembelaan bernada diplomatis. Ahmad Yuzar berdalih bahwa Sekda Ardi sebenarnya adalah sosok yang baik, namun memiliki kepribadian yang tertutup.
“Pak Sekda Ardi itu orangnya memang pendiam, namun sebenarnya baik. Mungkin karena beliau belum kenal saja dengan Pak Jhon Piter,” ujar Ahmad Yuzar mencoba mencairkan ketegangan.
Meski demikian, menyadari dampak politik dari keluhan ini, Bupati berjanji akan segera turun tangan untuk membenahi sumbatan komunikasi di internal pemerintahannya. “Nanti saya akan tetap membantu membangun komunikasi, agar ke depan hubungan komunikasi antara eksekutif dan legislatif bisa tersambung dengan bagus,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik sekaligus menjadi ujian bagi kepemimpinan Ahmad Yuzar dalam menertibkan ego sektoral para pejabatnya demi menjaga stabilitas politik dan kelancaran pembangunan di Kabupaten Kampar.









